KOTA BOGOR-Nama Sholeh Iskandar bagi masyarakat umum mungkin hanya dikenal sebagai nama jalan di Kota Bogor yang akrab dengan kemacetan, apalagi saat ini pada ruas jalan tersebut tengah dibangun jalan tol Bogor Outer Ring Road (BORR) Seksi II B ruas Kedung Badak – Simpang Yasmin. Namun jauh sebelum ditetapkan sebagai nama jalan, nama Sholeh Iskandar adalah sosok ulama dan pejuang asal Bogor yang semasa hidupnya telah memberikan sumbangsih yang cukup besar saat masa revolusi maupun pasca revolusi mulai dari tingkat lokal hingga internasional. Hal itu dipaparkan Edi Sudarjat dalam bukunya yang berjudul “Bogor Masa Revolusi 1945-1950, Sholeh Iskandar dan Batalyon 0 Siliwangi” terbitan Komunitas Bambu, Juni 2015.

Saat masa revolusi Sholeh Iskandar memimpin pasukan yang jumlahnya mencapai 1.000 personel, saat memimpin Batalyon VI salah satu bukti ketangguhannya mampu meledakan tank baja sekutu terbesar jenis Sherman di daerah Leuweung Kolot, Ciampea, Bogor. Lokasi peledakan itu kemudian dinamai Kampung Tank dan Batalyon VI direorganisasi menjadi Batalyon 0.

Pasca revolusi, tidak sedikit capaian yang ditorehkan Sholeh Iskandar yang juga dikenal sebagai kyai, di tingkat Internasional, pada tahun 1950 Sholeh Iskandar membangun perumahan modern di Desa Pasarean, Pamijahan, Bogor, prestasinya diakui UNESCO (United Nations of Educational, Scientific, and Cultural Organization) sebagai perumahan modern pertama di dunia ketiga. Kemudian di tahun 1960, Sholeh Iskandar mendirikan lembaga pendidikan agama sekaligus keterampilan hidup yang pertama didunia islam internasional yaitu Pondok Pesantren (Ponpes) Pertanian Darul Fallah di Ciampea, Bogor dan tahun 1988 memprakarsai berdirinya Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika majelis Ualam Indonesai (LPPOM MUI) yang kemudian berkembang menjadi lembaga sertifikasi halal tingkat internasional.

Di tingkat nasional, pada tahun 1959 bersama rekan-rekan seperjuangannya, Sholeh Iskandar mendirikan perusahaan Karoseri pertama di Indonesia dan pada tahun 1963 direorganisasi membentuk PT.Gunung Tirtayasa, mendirikan Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) tahun 1957, mendirikan museum perjuangan Bogor (1958), mendirikan Badan Kerjasama Pondok Pesantren Jawa Barat (1972) yang berkembang menjadi Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKPPI). Sementara itu, di itingkat lokal, pejuang yang lahir pada 5 April 1922 itu mendirikan Universitas Ibnu Chaldun Bogor (1961) dan diubah menjadi Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) pada tahun 1974, mendirikan Yayasan Rumah Sakit Islam Bogor (YARSIB) yang kemudian berhasil membangun Rumah Sakit Islam Bogor, memprakarsai berdirinya Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) Amanah Ummah (1992) dan banyak lagi sumbangsih lainnya yang diberikan semasa hidupnya.

Saat kegiatan Diskusi Buku Bogor Zaman Jepang dan Bogor Masa Revolusi di Universitas Indonesia (UI) Rabu (08/03/17) kemarin, Wali Kota Bogor Bima Arya, mengatakan figur KH Sholeh Iskandar bersama KH Abdullah bin Nuh adalah figur yang lengkap, tidak hanya sebatas tokoh agama dan ilmuwan yang berdakwah membela agamanya tapi juga seorang panglima yang mengangkat senjata membela bangsa dan negaranya.

Terakhir, KH Sholeh Iskandar saat meninggal dunia sebelum dikebumikan di Desa Barengkok, Leuwiliang, Kabupaten Bogor, jenazah sampai disholatkan dua kali, yang pertama di Masjid Al Hijri Akmpus UIKA Bogor oleh keluarga dan kerabat, yang kedua sesaat sebelum masuk area pemakaman oleh para warga serta mantan anak buah semasa masa revolusi. “Pada zaman perjuangan istilahnya itu adalah Aksi Daulat,” ujar penulis buku Bogor Masa Revolusi 1945-1950, Edi Sudarjat. (humas:rabas/indra-doc). SZ